Memulyakan Wanita dengan Hijab

I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Aurat merupakan permasalahan krusial. Berbagai dampak negatif dapat muncul dari permasalahan aurat. Perzinahan, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lain; salah satu penyebabnya berawal dari ketidakberesan dalam menjaga aurat.

Bahkan permasalahan pertama yang muncul dalam kehidupan manusia adalah aurat. Melalui celah ini, iblis pertama kali melancarkan tipu dayanya pada manusia. Sehingga Adam dan hawa tergelincir dan diusir dari surga. Perhatikan ayat berikut ini :

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)’” (QS Al-A’raaf 20).

Aurat merupakan lahan pertama yang digarap oleh iblis. Melalui media ini iblis berhasil menggelincirkan Adam, AS dan Hawa. Inilah durhaka pertama kali manusia terhadap Allah. Allah telah mengingatkan kita agar tidak terjerumus sebagaimana Adam dan Hawa terjerumus ke dalam lubang yang sama.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-A’raaf 27).

Oleh karena itu maka Allah mewajibkan manusia untuk menutup aurat dan menjaga segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. 31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS An-Nur 30-31)

Ayat di atas dengan tegas mewajibkan setiap pria dan wanita, khusus yang beriman, untuk menjaga aurat (kemaluan). Hanya saja penekanannya lebih kepada wanita dibanding pria. Hal ini disebabkan beberapa hal yaitu :

1. Wanita itu adalah fitnah terbesar.

Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Wanita adalah kaum yang lemah

Wahai kaum wanita, aku tidak melihat dari suatu kaum (orang-orang) yang lemah akal (pemikiran) dan lemah agama lebih menghilangkan hati orang-orang yang sehat akal dan benaknya dari pada kamu (kaum wanita). Aku telah menyaksikan neraka yang penghuninya paling banyak kaum wanita. Maka dekatkanlah dirimu kepada Allah sedapat mungkin. (HR. Bukhari)

3. Wanita adalah perangkap setan

Wanita adalah alat perangkap (penjaring) setan. (HR. Asysyihaab).

Ketiga hadits di atas bukan ditujukan untuk mendiskreditkan kaum wanita. Melainkan peringatan keras baik pada pria maupun wanita agar berhati-hati dalam berinteraksi. Sehingga dapat menjalani kehidupan sesuai perintah dan kehendak Allah agar kembali pada fitrah. Salah satunya dengan menutup aurat dengan benar agar tidak menimbulkan fitnah dan terjerumus ke dalam murka Allah yang berujung neraka. Hal ini disebabkan aurat wanita leih banyak disbanding pria dan potensial menimbulkan fitnah.

Terlepas dari ketiga hadits di atas, menutup aurat merupakan suatu keharusan. Tidak ada tawar-menawar dalam masalah ini. Penjagaan aurat yang benar merupakan parameter keimanan seseorang di hadapan Allah SWT. Mengingkarinya adalah sebuah kedurhakaan.

Tulisan ini berusaha untuk menggali bagaimana menghijab aurat wanita yang benar sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunah. Dengan harapan dapat memberikan sedikit pencerahan bagi kita semua umumnya dan kaum wanita khususnya dalam menjaga aurat. Sehingga dapat mengembalikan wanita ke fitrahnya dan mengangkat izzah wanita muslim di mata masyarakat.

1.2 Tujuan

Tulisan dibuat dengan tujuan menggali syari’at hijab dan aplikasinya bagi wanita muslimah yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunah. Selain itu, tulisan ini akan menggali dan memaparkan kewajiban hijab ditinjau dari sisi sains, yaitu kimia, biologi, dan fisika. Selain itu juga akan ditinjau manfaatnya dari sisi sosial kemasyarakatan. Dengan begitu tidak ada lagi alasan individu maupun kelompok untuk menolak syari’at hijab.

II. Hijab Wanita Muslimah

2.1 Aurat Wanita

Sebelum masuk ke dalam kajian masalah hijab akan terlebih dahulu dibahas mengenai aurat wanita.

Teungku. H. Hasanoel Bashry HG dalam Kumpulan Pemikiran Ulama Dayah Aceh dengan judul Aurat Dalam Perspektif Fuqaha Syâfi`îyah berpendapat bahwa, Aurat secara etimologis berarti sesuatu yang dipandang sebagai kekurangan (alNuqshân) dan sesuatu yang dipandang hina (al-Mustaqbah) dan juga dipakai dengan makna kadar tertentu yang hina dinampakkan. Dalam kamus ash-Shihah, dikatakan bahwa kalimat aurat berarti keburukan pada diri manusia, atau sesuatu yang dimalui oleh manusia. Demikian pula dalam Lisân al-`Arab, Ibn Mandlur memaknai kata aurat dengan setiap sesuatu yang disembunyikan, ditutupi.

Masih menurut Teungku. H. Hasanoel Bashry HG, sedangkan pengertian aurat dalam terminologi fiqh – menurut asy-Syarbînî dipakai dalam dua lingkup makna, yang pertama dipakai untuk makna sesuatu yang wajib ditutup dalam shalat, yang kedua kalimat aurat di-itlaq-kan untuk sesuatu yang haram dilihat.

Bisa dikatakan aurat adalah bagian-bagian dari tubuh manusia yang harus ditutupi dari keburukan. Hukumnya haram jika ditampakan. Baik dalam shalat maupun kehidupan sehari-hari, aurat tetap harus ditutupi dan dijaga agar tidak tersingkap yang dapat menyebabkan mudharat bagi pemiliknya.

2.1.1 Batas Aurat Wanita

Dalam konteks shalat, tidak ada perselisihan di antara ulama. Semua sepakat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Syaikh Ibnu Taimiyah dalam bukunya Hijab dan Pakaian Wanita Muslimah dalam Shalat menulis : Ringkasnya, berdasarkan nash dan ijma’, di dalam shalat ia tidak berkewajiban mengenakan jilbab yang biasa menutupi seluruh tubuhnya, bila shalat tersebut dilakukannya di dalam rumah. Itu hanya wajib dikenakannya apabila ia keluar rumahnya.

Mengenai batas aurat wanita di hadapan ajnabi (laki-laki yang bukan muhrim), terdapat persilihan antara ulama. Namun perselisihan tersebut tidak begitu signifikan dan sampai merusak esensi dari menutup aurat. Masing-masing pihak sama-sama mempunyai hujah yang kuat berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Kelompok pertama membatasi aurat pada seluruh tubuh wanita. Artinya semua anggota tubuh wanita harus ditutup termasuk muka dan telapak tangan. Kelompok inilah yang mewajibkan pemakaian cadar. Diantara mereka yang mewajibkan cadar ini adalah : Syaikh Muhammad As-Sinqithi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Mushthafa Al-Adawi dan para ulama lainnya.

Kelompok kedua mengkategorikan muka dan telapak tangan bukan aurat dan boleh ditampakan. Beberapa ulama yang tergabung dalam kelompok ini adalah : Dr. Yusuf Qhardhawi, Nasrudin Al-Albani, hampir seluruh ulama-ulama dari Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin, dan lainya.

Berikut ini pendapat Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam mengenai batas aurat wanita. Beliau menulis: Aurat perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, yaitu seluruh badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan. Demikian menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat.

Ustadz Khalid Syamhudi dalam Hukum Cadar, Antara yang Mewajibkan dan yang Tidak, menguraikan dalil bagi masing-masing kelompok ini. Ada 26 dalil baik Al-Qur’an dan Hadits Shahih dari pihak pertama. Sementara pihak kedua berpegang pada 18 belas dalil. Masing-masing mempunyai hujah yang kuat. Dan dapat dipertanggung jawab secara syar’i.

Badwi Mahmud dalam bukunya 100 Pesan Nabi Untuk wanita shalihah berusaha mengkompromikan dua pendapat di atas. Ia menulis: sementara itu, menutup wajah dan telapak tangan merupakan praktik pilihan yang bergantung situasi dan tradisi, bukan sesuatu yang wajib dan bukan pula sesuatu yang dilarang. Barang siapa mau boleh meninggalkannya. Namun, mengamalkannya dinilai lebih baik bila meninggalkannya diduga kuat akan menimbulkan fitnah. Dengan demikian, menolak kerusakan merupakan tuntutan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa batas aurat wanita di hadapan ajnabi adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Namun jika khawatir menimbulkan mudharat dari menampakan dua hal tersebut, dianjurkan untuk menutupnya.

Sedangkan aurat dihadapan muhrim, Shodikin MS & Ening W menjabarkan dalam web site mereka www.shodikin.20m.com sebagai berikut :

Mazhab Maliki : aurat wanita dihadapan laki-laki para muhrim ialah sekujur tubuh wanita itu kecuali muka dan ujung-ujung anggota tubuh, seperti kepala, kuduk, dua tangan dan dua kaki.

Mazhab Hambali : aurat wanita di hadapan para muhrim ialah sekujur tubuh kecuali muka, kuduk, kepala, dua tangan, kaki dan betis

2.2.2 Hukum Menutup Aurat

Menutup aurat hukumnya wajib. Tidak ada perbedaan pendapat dari jumhur ulama tentang ini. Kecuali mereka yang dengan sengaja memutarbalikan nash dengan tujuan-tujuan duniawi saja yang menentangnya. Atau mereka yang tidak tahu hukum dan nash-nash shahih. Firman Allah:

26. Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat. 27. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.

Meski perintah menutup aurat tidak secara gamblang disebutkan, namun secara tegas Allah mengingatkan agar tidak tertipu oleh iblis melalui aurat. Artinya secara tidak langsung kita diwajibkan untuk menjaga aurat dengan menutupnya. Berikut ini Hadits yang mewajibkan menutup aurat yang saya ambil dari Buku Kado Perkawainan karangan Mahmud Mahdi Al-Istanbuli :

1. Aku pernah menyampaikan tentang sesuatu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yakni, wahai Rasul Allah, apa yang boleh kami perlihatkan dari aurat kami dan siapa yang harus kami waspadai darinya? Beliau pun menjawab: Jagalah auratmu dari siapapun, kecuali dari isteri-isterimu atau terhadap isteri yang baru memiliki janjimu (baru melaksanakan akad nikah) (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i).

2. Aku (Mu’awiyah) bertanya: Wahai Rasulullah, lalu bagaimana jika kami sedang berkumpul? Beliau menjawab: Jika engkau mampu, maka jangan sampai seorang pun melihat auratnya. Karena itu, janganlah perlihatkan auratmu. Aku bertanya kembali: Wahai Rasulullah, jika salah satu dari kami sendirian? Beliau menjawab: Allah lebih berhak untuk merasa malu daripada manusia (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad jayyid).

3. Seorang pria tidak diperbolehkan melihat aurat pria lainnya dan tidak juga seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lainnya. Juga dilarang seorang pria dalam satu pakaian (selimut) dengan pria lainnya. Demikian pula seorang wanita dilarang berada dalam satu pakaian (selimut) dengan wanita lainnya. (HR. Muslim dan lain-nya)

Hadits ini menyangkut akan sesuatu yang lebih utama dan sempurna serta bukan hanya zhahirnya saja yang menunjukkan hukum wajib.

Tampak dengan jelas kewajiban menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan dari nash-nash di atas. Tidak ada lagi keraguan tentangnya. Oleh karena itu meninggalkannya merupakan durhaka besar terhadap Allah. Ganjaran bagi penentang kewajiban ini tak ada yang lebih pantas melainkan Neraka Allah. Allah berfirman :

36. dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

2.3 Hijab, Jilbab, dan Khimar

Banyak kalangan yang rancu dan kacau dalam memahami makna hijab, jilbab, dan kerudung (khimar). Sebagian menganggap hijab itu adalah jilbab atau jilbab itu adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Hijab bukanlah jilbab atau kerudung. Dan jilbab sangatlah berbeda dengan kerudung.

Inilah kesalahapahaman di tengah-tengah masyarakat yang harus diluruskan.

Sehingga kita bisa mendudukan masalah pada tempatnya dan mengambil manfaat darinya.

Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam bukunya Jilbab Wanita Muslimah menjelaskan hubungan antara jilbab dan hijab sebagai berikut: jilbab dengan hijab memiliki hubungan umum dan khusus. Setiap jilbab adalah hijab, namun tidak semua hijab itu jilbab.

Selanjutnya beliau menuliskan kutipan dari perkataan Ibnu Taimiyah sebagai berikut: Ayat jilbab itu berlaku ketika seorang wanita keluar dari tempat tinggal, sedangkan ayat hijab itu berlaku ketika seorang wanita melakukan pembicaraan dengan laki-laki di tempat tinggalnya.

Sementara Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid dalam bukunya Menjaga Kehormatan Muslimah menjelaskan hubungan hijab dan jilbab sebagai berikut :

Dalam aplikasinya, hijab yang diwajibkan atas seorang wanita ini — jika ia berada di dalam rumah — bisa dilakukan dari balik dinding dan dari dalam kamar, sedang bila ia menghadapi seorang laki-laki lain di dalam atau diluar rumah, maka hijab ini berarti pakaian syar’i, yaitu: jilbab dan kerudung yang menutupi seluruh tubuh dan perhiasan yang dipakainya. Sebagaimana terdapat nash-nash yang menyatakan, bahwa hijab ini hanya bisa dikategorikan sebagai hijab syar’i setelah memenuhi persyaratan-persyaratannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara Hijab, jilbab, dan khimar. Jilbab dan khimar merupakan aplikasi dari hijab. Sedangkan jilbab adalah pasangan khimar yang saling mengisi dan tidak boleh terpisah satu sama lain ketika seorang wanita berada di hadapan laki-laki yang bukan muhrimnya..

2.3.1 Hijab dan Dalil-dalilnya.

Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid dalam bukunya Menjaga Kehormatan Muslimah menjelaskan makna hijab sebagai berikut :

Hijab adalah isim masdar yang secara bahasa mempunyai arti as-satru (menutupi), al-hailûlah (menghalangi) dan al-man’u (mencegah). Sedangkan menurut syara’, ia berarti penutupan seorang wanita atas seluruh tubuh dan perhiasannya, dengan sesuatu yang bisa mencegah orang laki-laki lain dapat melihat bagian dari tubuh dan perhiasan yang dipakainya. Dan, itu bisa dilakukannya dengan berpakaian, ataupun dengan cara berdiam diri di dalam rumah.

Selanjutnya beliau menjelaskan makna hijab secara umum adalah al-man’u (mencegah) dan as-satru (menutupi). Ia diwajibkan atas semua orang muslim baik laki-laki maupun perempuan. Laki-laki beserta laki-laki lainnya, perempuan bersama perempuan lainnya dan salah satu di antara keduanya dengan yang lainnya

Sedangkan Ust. Rasul Bin Dahri dalam bukunya Berhijablah di Hadapan yang Bukan Mahram menguraikan makna hijab sebagai berikut :

Hijab jamaknya ialah hujub yang bermaksud:

1. Tirai (tabir), pemisah atau apa saja yang bisa memisahkan dan mengasingkan dari bercampurya antara dua benda atau perkara.

2. Dinding atau perlindungan dari sesuatu yang buruk, kain penutup dan cadar

Dari definisi di atas, kaitannya dengan konteks aurat, hijab dapat disimpulkan sebagai tabir atau pemisah antara aurat dengan sesuatu yang tidak berhak terhadapnya..

Perintah menghijab aurat ini wajib hukumya bagi semua muslim dan muslimah tanpa terkecuali. Dalil-dalil tentang wajibnya hijab secara tegas dapat ditemukan dalam Firman Allah berikut ini :

59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Ahzab:59)

Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid mengutip pendapat Imam Suyuthi rahimahullah dalam bukunya Menjaga Kehormatan Muslimah mengatakan bahwa Ayat ini adalah ayat hijab yang berlaku bagi seluruh wanita. Di dalamnya berisi kewajiban untuk menutupi kepala dan wajah mereka.

Ayat tersebut mewajibkan hijab kepada tiga kelompok wanita yaitu: istri nabi, anak perempuan nabi, dan istri orang mukmin. Sehingga jika dijabarkan, perintah ini mencakup seluruh wanita muslim atau mereka yang bersuamikan seorang mukmin. Itulah sebabnya jumhur ulama mewajibkan hijab kepada seluruh wanita muslim.

Selain ayat di atas, perintah hijab juga terdapat dalam Firman Allah berikut ini:

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS A-Nur:31)

Ayat ini mempertegas ayat sebelumya. Pada ayat ini perintah berhijab lebih ditekankan pada wanita beriman. Teungku. H. Hasanoel Bashry HG menjelaskan An-Nur:31 di atas sebagaimana terdapat dalam Kumpulan Tulisan Ulama Aceh sebagai berikut :

Ayat 31 surat an-Nur berisi perintah yang sama untuk wanita. Muhammad Ali al-Sâyis berpandangan, bahwa ada sesuatu yang khusus dalam pengulangan perintah ini, mengingat biasanya al-Qur’an menerapkan metode taghlîb. Kekhususan untuk wanita dalam ayat ini adalah larangan menampakkan perhiasan, kecuali yang biasa tampak, dan disertai dengan penjelasan tentang kepada siapa-siapa saja ia boleh terlihat. Kemudian perintah untuk melebarkan kerudungnya, terakhir larangan menghentakkan kaki, yaitu larangan melakukan segala sesuatu yang menarik perhatian manusia pada perhiasannya.

Abu Salma dalam artikelnya Studi Komprehensif Dalil Hijab menuliskan tiga hal yang menunjukan wajibnya hijab dalam ayat ini.

1. Firman-Nya: “Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”

2. Firman-Nya: “Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya.”

3. Firman-Nya: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan

Selain dua ayat di atas, wajibnya hijab juga bisa dilihat pada hadits nabi berikut ini yang saya kutip:

“Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haidh dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haidh menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab: “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.”” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak disangsikan lagi kewajiban berjilbab dari hadits di atas. Rasul dengan tegas melarang seorang wanita keluar rumah kecuali dengan berjilbab. Ustadz Khalid Syamhudi mengomentari hadits ini dalam Hukum Cadar Antar yang Mewajibkan dan yang Tidak sebagai berikut: Hadits ini menunjukkan kebiasaan wanita sahabat keluar rumah memakai jilbab. Dan Rasulullah tidak mengizinkan wanita keluar rumah tanpa jilbab, walaupun dalam perkara yang diperintahkan agama. Maka hal ini menjadi dalil untuk menutupi diri.

Selanjutnya hadits berikut ini:

Bahwa Asma’ bintu Abi Bakar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan berkata, “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Dawud, Thabarani, Ibnu ‘Adi, dari jalan Sa’id bin Basyir dari Qatadah dari

Hadits ini sesungguhnya lemah, tetapi Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini dikuatkan dengan beberapa penguat. Penguat tersebut diuraikan beliau dalam bukunya Jilbab Wanita Muslimah.

Dari nash-nash di atas, jelaslah bagi kita hukum wajibnya berhijab. Tidak ada lagi alasan untuk menolaknya meski sekecil apapun.

2.3.2 Jilbab dan Khimar

Jilbab dan Khimar adalah dua komponen wajib dalam dalam mengaplikasikan hukum berhijab. Keduanya tidak sama. Jilbab bukan khimar. Keduanya adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain ketika seorang wanita berada pada wilayah yang terdapat non muhrim di dalamnya. Baik itu di rumah, di kantor, maupun di tempat-tempat umum.

Jilbab sendiri adalah sejenis baju kurung yang menutupi seluruh anggota tubuh wanita. Majalah Al-Hijrah edisi online menuliskan definisi jilbab sebagai berikut :

Adapun yang dimaksud dengan jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit). Bahwa jilbab adalah setiap pakaian longgar yang menutupi pakaian yang biasa dikenakan dalam keseharian dapat dipahami dari hadis Ummu ‘Athiyah ra: “Rasulullah Saw memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah Saw menjawab, “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.” [HR. Muslim].

Sedangkan Syeikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid mendefiniskan jilbab sebagai berikut: al-jilbâb, bentuk jamaknya “jalâbîb”, yaitu: kain atau pakaian tebal yang menyelimuti anggota tubuh seorang perempuan, mulai dari kepala hingga kedua telapak kakinya. Atau dengan kata lain, menutupi seluruh anggota tubuh beserta pakaian dan perhiasan yang dipakainya.

Sementara Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Hijab dan Pakaian Wanita Muslimah Dalam Shalat menjelaskan jilbab adalah mala’ah. Ibnu Mas’ud dan ulama yang lain menyebutnya dengan izar, yaitu semacam baju kurung besar yang menutup kepala dan seluruh badan wanita.

Menurut Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dalam bukunya Nasihat Untuk Wanita Muslimah Jilbab adalah kain lebar yang dikenakan wanita untuk membungkus tubuhnya, dan yang dikenal sebagai jaket (luar) yang besar yang dikenakan wanita di luar pakaiannya. Allah telah memerintahkan wanita untuk meletakkannya menutupi wajahnya hingga tidak ada yang terlihat dari seorang wanita yang dapat menjadi godaan bagi manusia.

Sedangkan bentuk fisik jilbab dijelaskan lebih rinci oleh Majalah Al-Hijrah sebagai berikut: Menjulur ke bawah sampai menutupi kedua kakinya (tidak berbentuk potongan atas dan bawah, baik rok atau celana [seluar] panjang) sebab firman Allah SWT: “Dan hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Huruf “min” pada frase “min jalâbîbihinna” berfungsi untuk menjelaskan (li al-bayân), bukan li al-tab’îdl (menunjukkan arti sebagian).

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan jilbab adalah baju kurung lebar dan tebal yang menjulur sampai ke mata kaki dan tidak berbentuk potongan.

Selain itu, jilbab yang benar sesuai syar’i harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Muhammad Nashiruddin Al Albani merinci syarat-syarat jilbab dalam bukunya Jilbab Wanita Muslimah sebagai berikut:

1. Menutup seluruh tubuh, selain bagian yang dikecualikan.

2. Bukan untuk berhias.

3. Tebal, tidak tipis.

4. Longgar, tidak ketat.

5. Tidak diberi wangi-wangian.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

8. Bukan pakaian untuk kemasyhuran.

Beliau merinci syarat di atas berdasarkan nash-nash Al-Quran dan Hadits. Sehingga tidak diragukan lagi keshahihannya.

Untuk melengkapi kesempurnaan hijab, diwajibkan pula memakai khimar. Ust. M. Shiddiq Al Jawi dalam tulisannya Jilbab Dan Khimar, Busanah Muslimah Dalam Kehidupan Umum menjelaskan khimar sebagai kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada.

Muhammad Nashiruddin Al Albani menjelaskan makna khimar dalam bukunya Jilbab Wanita Muslimah sebagai berikut: Saya teiah memeriksa pendapat para ulama salaf maupun khalaf, pada spesifikasinya masing-masing, saya dapati mereka telah bersepakat bahwa khimar adalah ‘tutup kepala’. Selanjutnya beliau mempertegas definisi khimar ini dalam bukunya Hukum Cadar sebagai berikut: para ulama salaf maupun khalaf berpendapat bahwa khimar tidak menutup wajah. Khimar hanya menutup kepala saja.

Sementara Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dalam bukunya Nasihat Untuk Wanita Muslimah menerangkan khimar sebagai berikut: Khumur adalah bentuk jamak dari khimar, yaitu merujuk pada sesuatu yang menutupi atau menahan sesuatu. Itulah sebabnya mengapa khamr (alkohol) disebut dengan nama ini karena dia menutupi dan menahan (yakni memabukkan) pikiran. “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya” Ini merujuk pada bagian terbuka di bagian atas pakaian mereka yang memperlihatkan bagian tenggorokan dan bagian leher. Seorang wanita tidak boleh membiarkan bagian ini terbuka bagi laki-laki untuk dipandang, namun sebaliknya dia harus memanjangkan khimarnya diatasnya. Jika seorang wanita diperintahkan untuk menutupi lehernya, maka terlebih lagi wajahnya harus ditutupi. Bahkan, mengulurkan khimar di atas dada dan bagian leher diperlukan juga jatuh ke wajah. Alasannya karena khimar diletakkan di atas kepala. Sehingga jika diletakkan di atas kepala agar jatuh menutupi dada, maka hal itu termasuk wajah.

Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya Fatwa Al-Qardhawi mendefiniskan khimar sebagai “kain  untuk  menutup  kepala,”  sebagaimana   surban   bagi laki-laki, sebagaimana  keterangan  para  ulama  dan  ahli tafsir.

Dari uraian definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa khimar adalah pelengkap penyempurna hijab yang berfungsi menutup kepala atau wajah, leher, dan lubang baju di dada berbentuk seperti kerudung.

2.3.3 Keutamaan dan Hikmah Hijab

Berikut ini beberapa keutamaan berhijab yang terdapat dalam Hijab edisi Indonesia oleh Team Dar Al-Qosim:

1. Hijab itu adalah merupakan ketaatan kepada Allah dan Rasul.

Allah SWT telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah SWT:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Allah SWT juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)

Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Allah SWT berfirman:

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah SWT berfirman:

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah SAW bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa wanita harus menutupi tubuhnya.

2. Hijab itu ‘iffah

Allah SWT menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).

Allah SWT berfirman:

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan buruk (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.

3. Hijab itu kesucian

Allah SWT berfirman:

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Allah SWT menyifati hijab sebagai simbol kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah SWT berfirman:

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)

4. Hijab itu pelindung

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”

Sabda beliau yang lain: “Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”

Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.

5. Hijab itu taqwa

Allah SWT berfirman:

“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)

6. Hijab itu iman

Allah SWT tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah SWT juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

7. Hijab itu haya’ (rasa malu)

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”

Sabda beliau yang lain: “Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”

Sabda Rasul yang lain: “Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

8. Hijab itu ghirah (perasaan cemburu)

Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-

laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”

Allah mewajibkan hijab pada setiap muslimah mengandung beberapa hikmah. Adapun hikmah hijab diantaranya adalah:

1. Menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya.1)

2. Menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki.2)

3. Bila seorang wanita itu memakai jilbab, bisa dimengerti bahwa dia adalah

seorang wanita yang bersih, menjaga diri dan berperilaku baik.3)

4. Terjaga marwah dan terpelihara dari gangguan laki-laki.4)

Selain keempat hikmah di atas, Drs. Muhammad S.A. dalam artikelnya Kerudung Wanita atau Jilbab, Perintah Allah yang sudah dilupakan Ummat Islam menguraikan dua hikmah berhijab yaitu:

1. Dengan memakai jilbab dan busana muslimat, kaum wanita dapat mengerjakan

shalat di mana saja, lebih-lebih bagi mereka yang dalam perjalanan, seperti

naik kereta api atau kapal udara.

2. Hikmah yang lain dari wanita memakai jilbab, yaitu bagi mereka yang sudah
bersuami. Suami istri yang habis bersenggama wajib melakukan mandi junub,

kalau tidak maka shalatnya tidak diterima Allah SWT. Kaum wanita yang tak

mau memakai jilbab, malu melakukan mandi junub, karena tiap kali rambutnya

basah. Tetapi dengan memakai jilbab, wanita yang sudah mandi junub,

rambutnya yang basah tidak akan dilihat orang.

Yoyox Dalam artikelnya Hikmah Memakai Jilbab, merinci 4 point hikmah berjilbab, yaitu:

1. Sebagai identitas seorang muslimah

Allah memberikan kewajiban untuk berjilbab agar para wanita mukmin mempunyai ciri khas dan identitas tersendiri yang membedakannya dengan orang-orang non muslim. dalam sebuah hadits dikatakan : “barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud)

2. Meninggikan derajat wanita muslim (muslimah)

Dengan mengenakan jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak membuka auratnya di sembarang tempat, maka seorang muslimah itu bagaikan sebuah batu permata yang tidak sembarang orang dapat mengambiliya. Dan bukan seperti batu yang berserakan di jalan dimana setiap orang dapat dengan mudah mengambilnya.
Allah berfirman :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl (16) : 97)

3. Mencegah dari gangguan laki-laki iseng yang tidak bertanggung jawab

Dengan memakai julbab, seluruh tubuh akan tertutup kecuali muka dan telapak tangan, maka gangguan laki-laki iseng yang tertarik untuk menggoda menjadi lebih kecil,sehingga kejadian-kejadian seperti perkosaan, perzinaan, dsb dapat dihindari.

4. Memperkuat kontrol sosial

Seorang yang ikhlas dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya khususnya dalam mengenakan busana muslimah, Insya Allah ia akan selalu menyadari bahwa dia selalu membawa nama dan identitas Islam dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga apabila suatu saat dia melakukan kekhilafan maka ia akan lebih mudah ingat kepada Allah.

2.4 Tabarruj

Tabarruj adalah membuka atau memamerkan aurat. Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Halal dan Haramdalam Islam menguraikan makna tabarruj sebagai berikut: Dalam mengertikan tabarruj ini, Zamakhsyari menggunakan unsur baru, yaitu: takalluf (memaksa) dan qashad (sengaja) untuk menampakkan sesuatu perhiasan yang seharusnya disembunyikan. Sesuatu yang harus disembunyikan itu ada kalanya suatu tempat di badan, atau gerakan anggota, atau cara berkata dan berjalan, atau perhiasan yang biasa dipakai berhias oleh orang-orang perempuan dan lainlain. Selanjutnya beliau menulis: Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang.

Tabarruj ini sangat merugikan wanita. Adapun kejelekan tabarruj di jabarkan dalam Hijab edisi Indonesia oleh Team Dar Al-Qosim sebagai berikut:

1. Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul.

2. Tabarruj menyebabkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.

3. Tabarruj adalah sifat penghuni neraka.

4. Tabarruj penyebab hitam dan gelap di hari kiamat.

5. Tabarruj adalah kemunafikan.

6. Tabarruj mengoyak tirai pelindung dan membuka aib.

7. Tabarruj adalah perbuatan keji.

8. Tabarruj adalah ajaran iblis.

9. Tabarruj adalah jalan hidup orang-orang Yahudi.

10. Tabarruj adalah Jahiliyah busuk.

11. Tabarruj adalah keterbelakangan.

12. Tabarruj adalah pintu adzab yang merata.

Dalam buku yang sama, Team Dar Al-Qosim merinci bahaya dan akibat tabarruj adalah sebagai berikut:

1. Rusaknya akhlak kaum lelaki khususnya para pemuda yang terdorong melakukan zina yang diharamkan.

2. Memperdagangkan wanita sebagai sarana promosi atau untuk meningkatkan usaha perdagangan dan sebagainya.

3. Mencelakan diri wanita sendiri, karena Tabarruj itu menunjukkan niat jelek dari apa yang ia suguhkan untuk menggoda orang-orang jahat dan bodoh.

4. Tersebarnya penyakit, seperti sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah suatu perbuatan zina itu nampak pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya kecuali akan tersebar di antara mereka penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah ada pada orang-orang dulu.”

5. Mempermudah mata melakukan maksiat, Rasulullah SAW bersabda: “Kedua mata zinanya adalah melihat.” Serta menyulitkan ketaatan ghadhul bashar (menundukkan pandangan) yang merupakan sesuatu yang lebih berbahaya dari ledakan bom atom dan gempa bumi. Allah SWT berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya.” (Q.S. Al-Isra’: 16)

Dalam hadits juga disebutkan: “Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menimpakan mereka adzab.”

2.5 Realita Hijab di Indonesia

Di Indonesia hijab lebih dikenal dengan jilbab atau kerudung. Sayangnya, banyak diantara pengguna hijab ini salah kaprah mengenai esensi, bentuk, dan wujud jilbab atau kerudung itu sendiri. Akibatnya, aplikasi di lapangan jauh dari tuntunan syari’at. Di Indonesia jilbab dimaknai dengan kain penutup kepala yang menjulur hingga melewati dada atau bahkan kain penutup kepala saja. Padahal itu adalah khimar bukan jilbab. Sedangkan hijab dalam islam adalah jilbab dan khimar. Dan ini tentu saja masih belum memenuhi syarat berhijab. Tata cara pemakaiannya pun jauh dari kaidah syar’i.

Di Aceh saja yang menerapkan syari’at islam, jilbab masih sangat jauh dari tuntunan syari’at. Umumnya mereka masih menggunakan khimar saja. Itupun banyak yang diikatkan di leher atau terjulur tidak melewati dada.

Kalaupun pemakaian khimar sudah benar, namun aplikasi jilbabnya sama sekali jauh dari tuntunan. Atau kalau bisa dikatakan belum berjilbab. Ini bisa dilihat dari banyaknya wanita muslim yang masih berbusa ketat dan menyerupai laki-laki.

2.5 Golongan Penentang Hijab

Meskipun telah jelas hukum, keutamaan, dan hikmah hijab namun beberapa oknum golongan maupun pribadi tidak menerimanya. Macam-macam dalil dan alasan mereka paparkan untuk menolak secara halus maupun terang-terangan kewajiban berhijab.

Golongan yang secara vocal menyuarakan penolakan mereka terhadap hijab adalah Jaringan Islam Liberal (JIL) dan The Wahid Institute. Dalam banyak artikel yang dimuat dalam web site mereka www.islamlib.com dan www.wahidinstitute.org, secara tersembunyi maupun terang-terangan, mereka mendiskriditkan kewajiban hijab bagi wanita muslim. Melalui berbagai jargon buatan musuh-musuh islam seperti Gender, HAM, Hak Private, dan jargon berbhaya lainnya.

Dalam sebuah artikel yang dimuat dalam www.rafflesia.wwf.or.id, M. Dawan Rahardjo yang juag Ketua Yayasan Lembaga Studi Agama Dan Filsafat Jakarta menulis: Hijab adalah salah satu bentuk segregasi yang sangat ditentang oleh semua pemerintah modern. Mengapa Indonesia harus kembali ke segregasi? Apakah hal ini bukan berarti “kemunduran”?.

Lebih jauh Dawan menulis: Dalam kehidupan bernegara ini, harus diingat prinsip adanya perbedaan antara wilayah publik dan wilayah privat. Sekularisme menganut haluan pemisahan antara wilayah publik dan wilayah privat. Beragama, terutama dalam aspek keyakinan dan ibadah, masuk wilayah privat yang melekat dengan hak-hak asasi manusia. Negara tidak perlu mengatur wilayah privat ini. Pengaturan wilayah privat sebagaimana yang diatur perda syariat selalu berpotensi melanggar hak-hak sipil. Karena itu, menjamurnya perda syariat dewasa ini harus dinilai sebagai bahaya yang mengancam hak asasi manusia dan hak-hak sipil.

Pendapat lebih ekstrem disampaikan oleh tokoh JIL Siti Musdah Mulia yang juga Pejawab Departemen Agama RI. Dalam artikelnya dengan judul Memahami Jilbab Dalam Islam yang dipublikasikan pada www.icrp-online.org ia menulis: Memakai jilbab bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan Islam. Itu hanyalah ketentuan Al-Quran bagi para istri dan anak-anak perempuan Nabi, dan semua perempuan beriman di masa itu untuk menutup tubuh mereka atau bagian dari tubuh mereka sedemikian rupa sehingga tidak mengundang kaum munafik untuk menghina mereka. Jadi illat hukumnya adalah perlindungan terhadap perempuan. Jika perlindungan itu tidak dibutuhkan lagi karena sistem keamanan yang sudah demikian maju dan terjamin, tentu perempuan dapat memilih secara cerdas dan bebas apakah ia masih mau menggunakan jilbab atau tidak.

Bahkan sekelas dosen S3 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta berpandangan nyeleneh (menyimpang) soal jilbab. Adalah Nasarudin Umar dalam artikelnya Antropologi Jilbab menulis: hanya saja diskursus mengenai jilbab kurang bijaksana jika yang diangkat adalah persolan teologinya semata, dalam arti, seolah-olah keislaman seseorang dilihat dari segi bentuk kostum ynag digunakan, Membuka aurat atau tidak menggunakan jilbab bukanlah suatu pelanggaran hukum (jarimah) yang harus dikenakan sangsi hukum. Dengan kata lain seperti yang dikatakan Syeikh Muhammad Syahrur bahwa persoalan jilbab lebih merupakan persoalan aib dan malu secara adat dari pada persoalan haram dan halal.

Inilah sebagian kecil dari Duri dalam Daging umat islam. Intelektualitas yang mereka miliki justru digunakan untuk menyerang islam. Semoga Allah merahmati mengampuni dosa-dosa mereka. Amiin.

2.6 Langkah Melestarikan Budaya Berhijab

Mengingat wajibnya jilbab serta kutamaan dan hikmah yang dikandungnya, sudah selayaknya kita sebagai umat islam menjaga dan melestarikan Budaya Jilbab dimanapun dan kapanpun. Adapun langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka mengamalkan perintah hijab ini antara lain:

1. Kepada orang tua, hendaklah menanamkan aqidah yang benar pada anak sejak dari kecil. Hanya dengan aqidah yang benar yang bisa membuat seseorang hanya takut pada Allah semata. Aqidah yang benar akan membuat seseorang benar-benar meyakini segala sesuatu yang datangnya dari Allah dan Rasulnya serta tidak ada sedikitpun rasa penolakan. Dengan aqidah yang benar pula yang dapat menciptakan rasa cinta yang mendalam dengan segala sesuatu yang datangnya dari Allah.

2. Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dalam bukunya Nasihat untuk Wanita Muslimah menjelaskan sebagai berikut: Mereka harus membesarkan anak-anak perempuannya agar memiliki kelakuan yang shalih dan adab yang sepatutnya, mereka harus menutupi diri mereka dan memiliki rasa malu. Nabi bersabda: “Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kamu bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Wanita adalah pemimpin rumah tangga suaminya, dan dia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.HR Bukhari dari Ibnu Umar.

3. Mesir dan Al-Azhar terkenal keislamannya yang mengakar. Ini disebabkan karena produktifnya ulama menulis buku. Dan itu bisa menjadi contoh bagi kita dalam rangka melestarikan jilbab. Hendaklah para ulama serius perhatiannya dalam masalah ini dalam bentuk menerbitkan buku-buku yang mengupas masalah hijab. Sampai saat ini sejauh yang penulis telusuri, buku-buku mengenai hijab karya Ulama Indonesia masih sangat sedikit. Kalaupun ada, isinya banyak yang meyimpang dari garis sunnah.

4. Sosialisasi mengenai hijab yang benar secara kontinyu dan periodik pada masyarakat. Karena sebagian besar masyarakat belum memahami betul masalah hijab yang benar dan syar’i.

III. Penutup

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian tentang hijab adalah sebagai berikut:

1. Setiap wanita diwajibkan menutup aurat baik dihadapan muhrim maupun non muhrim.

2. Adapun batas aurat wanita dihadapan non muhrim adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Namun jika ditakutkan menimbulkan mudharat sebaiknya muka dan telapak tangan ditutup pula.

3. Hijab adalah sarana untuk menutup aurat dan hukumnya wajib.

4. Hijab dalam kntek busana terdiri dari Jilbab dan Khimar. Keduanya tidak boleh ditinggalkan salah satunya jika seorang wanita berada dihadapan non muhrim.

5. Membuka atau memamerkan aurat yang disebut tabarruj sangat buruk dan mengandung banyak bahaya.

6. Hijab dengan keutamaan-keutamaannya mengandung hikmah yang baik yang dapat melindungi seorang wanita dari keburukan duniawi dan ukhrawi.

Iklan

6 responses to “Memulyakan Wanita dengan Hijab

  1. MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA
    Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933
    Tentang
    HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN
    TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

    Pertanyaan :
    Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

    Jawaban :
    Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi – penj ).
    Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH.

    Keterangan :

    (a) Kitab Maraqhil-Falah Syarh Nurul-Idlah (yang membolehkan):

    (وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إلاَّ وَجْهَهَا وَكَفََّّيْهَا). بَاطِنَهُمَا وَظَاهِرَهُمَا فِيْ اْلأَصَحِّ وَهُوَ الْمُخْتَارُ. وَ ذِرَاعُ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ فِيْ ظَاهِرِ الرِّوَايَةِ وَهِيَ اْلأَصَحُّ. وَعَنْ أَبِيْ حَنِيْفَةَ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ (وَ) إِلاَّ (قَدَمَيْهَا) فِيْ أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ بَاطِنِهِمَا وَظَاهِرِهِمَا الْعُمُوْمِ لِضَرُوْرَةِ لَيْسَا مِنَ الْعَوْرَةِ فَشَعْرُ الْحُرَّةِ حَتىَّ الْمُسْتَرْسَلِ عَوْرَةٌ فِيْ اْلأَصَحِّ وَعَلَيْهِ الْفَتَوَي

    Seluruh anggota badan wanita merdeka itu aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, baik bagian dalam maupun luarnya, menurut pendapat yang tersahih dan dipilih. Demikian pula lengannya termasuk aurat. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang tidak menganggap lengan tersebut sebagai aurat. Menurut salah satu riwayat yang sahih, kedua telapak kaki wanita itu tidak termasuk aurat baik bagian dalam maupun bagian luarnya. Sedangkan rambutnya sampai bagian yang menjurai sekalipun, termasuk aurat, demikian fatwa atasnya.

    (b) Kitab Bajuri Hasyiah Fatchul-Qarib Jilid. II Bab Nikah (yang mengharamkan) :

    (قَوْلُهُ إِلىَ أَجْنَـبِّيَةِ) أَي إِلىَ شَيْءٍ مِنْ اِمْرَأَةٍ أَجْنَـبِّيَّةٍ أَي غَيْرِ مَحْرَمَةٍ وَلَوْ أَمَةً وَشَمِلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفََّّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظَرُ إِلَيْهَا وَلَوْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ أَوْ خَوْفٍ فِتْنَةٍ عَلىَ الصَّحِيْحِ كَمَا فِيْ الْمِنْحَاجِ وَغَيْرِهِ إِلىَ أَنْ قَالَ وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ” وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا” وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَالْمُعْتَمَدُ اْلأَوَّلُ. وَلاَ بَأْسَ بِتَقْلِيْدِ الْـثَانِيْ لاَسِيَّمَا فِيْ هَذَا الزَّمَانِ الَّذِيْ كَثُرَ فِيْهِ خُوْرُجُ النِّسَاءِ فِيْ الطُّرُقِ وَاْلأَسْوَاقِ وَشَمِلَ ذَلِكَ أَيْضًا شَعْرَهَا وَظَفْرَهَا.

    (PENDAPAT PERTAMA) (Perkataannya atas yang bukan mahram / asing) yakni, pada segala sesuatu pada diri wanita yang bukan mahramnya walaupun budak termasuk wajah dan kedua telapak tangannya, maka haram melihat semua itu walaupun tidak disertai syahwat ataupun kekhawatiran timbulnya adanya fitnah sesuai pendapat yang sahih sebagaimana yang tertera dalam kitab al-Minhaj dan lainnya.

    PENDAPAT LAIN (KEDUA) menyatakan atau dikatakan (qila) tidak haram sesuai dengan firman Allah “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya” (QS.An-Nuur : 31).
    [Penjelasan : Istilah “qila” ( = dikatakan) dinyatakan dengan bentuk kalimat pasif biasa digunakan oleh para ulama ahli hadits untuk menunjukkan bahwa riwayat dan pendapat itu lemah.]

    PENDAPAT PERTAMA (yang mengharamkan) lebih sahih, dan tidak perlu mengikuti pendapat kedua (yang tidak mengharamkan) terutama pada masa kita sekarang ini di mana banyak wanita keluar di jalan-jalan dan pasar-pasar. Keharaman ini juga mencakup rambut dan kuku.

    Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), h.123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007

  2. بسم الله الرحمن الرحيم
    CADAR DI DALAM KITAB-KITAB PESANTREN INDONESIA
    Oleh : Ummu Ashhama Zeedan (Mrs. Novita Kartikasari, SS, MPd.)

    ا لحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله و صحبه أجمعين و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين و بعد،

    Masih banyak orang Islam di Indonesia yang memandang cadar sebagai barang aneh dan cenderung menilainya secara negatif. Wanita muslimah yang mengenakannya sering dituduh secara ekstrim sebagai pengikut aliran sesat atau aliran sempalan yang eksklusif. Padahal terminologi cadar sudah dikenal oleh kalangan santri di pondok-pondok pesantren kita yang menunjukkan bahwa cadar bukanlah barang baru, asing, apalagi dikatakan sebagai bukan ajaran Islam. Hanya saja banyak dari mereka yang membaca, namun tidak mau menyampaikan (menjelaskan) hal ini kepada umat. Atau juga banyak dari mereka yang membaca namun tidak mau mengamalkannya.
    Memang ulama berbeda pendapat tentang hukum cadar ini, dari yang mewajibkan hingga yang mengatakan mandub (dianjurkan) bila wajah perempuan itu dapat menimbulkan fitnah syahwat. Namun tidak ada satupun yang mengatakan bahwa pemakai cadar adalah aliran sesat atau sempalan. Berikut ini adalah terminologi cadar di dalam sebagian kitab-kitab yang dikenal dan digunakan oleh kalangan muslimin Indonesia, yaitu:

    1. Kitab Tafsir al-Qur’an dan Terjemahnya , dikeluarkan oleh Tim Tashhih Departemen Agama RI.
    Tafsir surat Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab , يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka . ..),
    yaitu: Jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

    2. Kitab Tafsir ath-Thabari ditulis oleh Al-Imam Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib ath-Thabari رحمه الله . Kitab tafsir ini adalah kitab referensi yang sangat dikenal di dunia Islam. Pembahasan cadar di dalam kitab ini di antaranya dalam:
    a. Tafsir surat An-Nuur ayat 31 tentang إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنـْهَا
    (… kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.), yaitu :
    يَقُول تَعَالَى ذِكْره : وَلاَ يُظْهِرْنَ لِلنَّاسِ الَّذِينَ لَيْسُوا لَهُنَّ بِمَحْرَمٍ زِينَتهنَّ , وَهُمَا زِينَتَانِ : إِحْدَاهُمَا : مَا خَفِيَ , وَذَلِكَ كَالْخَلْخَالِ وَالسِّوَارَيْنِ وَالْقُرْطَيْنِ وَالْقَلَائِد . وَالاُخْرَى : مَا ظَهَرَ مِنْهَا , وَذَلِكَ مُخْتَلَف فِي الْمَعْنَى مِنْهُ بِهَذِهِ الايَة , فَكَانَ بَعْضهمْ يَقُول : زِينَة الثِّيَاب الظَّاهِرَة .
    … عَنِ ابْن مَسْعُود , قَالَ : الزِّينَة زِينَتَانِ : فَالظَّاهِرَة مِنْهَا الثِّيَاب , وَمَا خَفِيَ : الْخَلْخَالَانِ وَالْقُرْطَانِ وَالسِّوَارَانِ …عَنْ أَبِي إِسْحَاق , عَنْ أَبِي الأَحْوَص , عَنْ عَبْد اللَّه : { إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا } قَالَ : الثِّيَاب . قَالَ أَبُو إِسْحَاق : أَلاَّ تَرَى أَنَّهُ قَالَ : { خُذُوا زِينَتكُمْ عِنْد كُلّ مَسْجِد } ؟ .

    Allah  berfirman: Janganlah menampakkan perhiasan mereka kepada manusia selain mahramnya. Perhiasan itu ada dua: yang disembunyikan, yaitu seperti: gelang kaki, dua gelang tangan, dua anting-anting dan kalung. Dan yang kedua adalah yang biasa tampak –ada perbedaan pendapat tentang makna ayat dalam hal ini, dan sebagiannya mengatakan yaitu : pakaian luar.
    Dari Ibnu Ibnu Mas’ud  berkata:”Perhiasan ada dua macam: yang biasa tampak yaitu pakaian luar. Dan perhiasan yang disembunyikan yaitu: gelang kaki, dua anting-anting dan dua gelang tangan.”
    Dari Abu Ishaq dari Abu al-Ahwash dari Abdullah  berkata,” { إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنـْهَا } yaitu : pakaian.”
    Berkata Abu Ishaq,”Apakah engkau tidak melihat firman Allah : { خُذُوا زِينَتكُمْ عِنْد كُلّ مَسْجِد } “Pakailah perhiasanmu (pakaianmu) yang indah setiap memasuki masjid ?” (QS. Al-A’raf : 31)

    b. Tafsir surat Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab, يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِـيــبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka . . .) , yaitu :
    يَقُول تَعَالَى ذِكْره لِنَبِيِّهِ مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَيّهَا النَّبِيّ قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ , لاَ يَتَشَبَّهْنَ بِاْلإِمَاءِ فِي لِبَاسهنَّ إِذَا هُنَّ خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتهنَّ لِحَاجَتِهِنَّ , فَكَشَفْنَ شُعُورَهُنَّ وَوُجُوهَهُنَّ , وَلَكِنْ لِيُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبهنَّ , لِئَلاَّ يَعْرِض لَهُنَّ فَاسِق , إِذَا عَلِمَ أَنَّهُنَّ حَرَائِر بِأَذًى مِنْ قَوْل , ثُمَّ اخْتَلَفَ أَهْل التَّأْوِيل فِي صِفَة الإدْنَاء الَّذِي أَمَرَهُنَّ اللَّه بِهِ , فَقَالَ بَعْضهمْ : هُوَ أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوهَهُنَّ وَرُءُوسَهُنَّ , فَلاَ يُبْدِينَ مِنْهُنَّ إِلاَّ عَيْنًا وَاحِدَة .

    Allah  berfirman kepada Nabinya Muhammad  : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu dan wanita mukminah, janganlah menyerupai budak-budak di dalam berpakaian yang jika keluar rumah untuk suatu keperluan, mereka menampakkan rambut dan wajah-wajah mereka. Akan tetapi hendaklah mengulurkan jilbab-jilbab mereka, sehingga orang-orang fasiq dapat mengenali mereka sebagai wanita merdeka dan terhindar dari gangguan dalam satu pendapat. Ahli ta’wil berbeda pendapat di dalam cara mengulurkan jilbab yang diperintahkan Allah. Maka sebagiannya mengatakan : yaitu menutupi wajah-wajah dan kepala-kepala mereka dan tidaklah menampakkannya kecuali hanya satu mata saja.”

    عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { يَا أَيّهَا النَّبِيّ قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ } أَمَرَ اللَّه نِسَاء الْمُؤْمِنِينَ إِذَا خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتهنَّ فِي حَاجَة أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوهَهُنَّ مِنْ فَوْق رُءُوسهنَّ بِالْجَلاَبِيبِ , وَيُبْدِينَ عَيْنًا وَاحِدَة .
    Dari Ali dari Ibnu ‘Abbas  berkata, “Allah telah memerintahkan wanita-wanita muslimah jika keluar dari rumah mereka dalam suatu keperluan untuk menutup wajah-wajah mereka (mulai) dari atas kepalanya dengan jilbabnya dan menampakkan hanya satu mata saja.”

    عَنِ ابْن سِيرِينَ , قَالَ : سَأَلْت عُبَيْدَة , عَنْ قَوْله : { قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ } قَالَ : فَقَالَ بِثَوْبِهِ , فَغَطَّى رَأْسَهُ وَوَجْهَهُ , وَأَبْرَزَ ثَوْبَهُ عَنْ إِحْدَى عَيْنَيْهِ . وَقَالَ آخَرُونَ : بَلْ أُمِرْنَ أَنْ يَشْدُدْنَ جَلاَبِيبهنَّ عَلَى جِبَاههنَّ .
    Dari Ibnu Sirrin berkata,“Aku bertanya kepada Ubaidah tentang firman Allah  : { قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ}, maka iapun (mencontohkan) dengan pakaiannya, kemudian menutup kepala dan wajahnya serta hanya menampakkan salah satu matanya.”
    Dan berkata yang selainnya,”Bahkan diperintahkan kepada mereka agar mengikatkan (mengencangkan) jilbab- jilbabnya itu di dahi-dahi mereka.”

    3. Kitab Tafsir Ibnu Katsir ditulis oleh Al-Imam Imaduddin Abu al-Fida bin Umar bin Katsir ad-Dimasyiqi al-Qurasyi as-Syafi’i رحمه الله . Kitab tafsir ini adalah referensi yang sangat terkenal di seluruh dunia dan di pondok-pondok pesantren Indonesia sejak masa dahulu. Pembahasan cadar di dalam kitab ini di antaranya dalam:
    a. Tafsir surat An-Nuur ayat 31 tentang إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنـْهَا (… kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.) :

    أَيْ لاَ يُظْهِرْنَ شَيْئًا مِنْ الزِّينَة لِلأَجَانِبِ إِلاَّ مَا لاَ يُمْكِن إِخْفَاؤُهُ. قَالَ اِبْن مَسْعُود : كَالرِّدَاءِ وَالثِّيَاب يَعْنِي عَلَى مَا كَانَ يَتَعَاطَاهُ نِسَاء الْعَرَب مِنْ الْمِقْنَعَة الَّتِي تُجَلِّل ثِيَابهَا وَمَا يَبْدُو مِنْ أَسَافِل الثِّيَاب ,فَلاَ حَرَج عَلَيْهَا فِيهِ ِلأَنَّ هَذَا لاَ يُمْكِنهَا إِخْفَاؤُهُ وَنَظِيره فِي زِيّ النِّسَاء مَا يَظْهَر مِنْ إِزَارهَا وَمَا لاَ يُمْكِن إِخْفَاؤُهُ . . . عَنْ اِبْن عَبَّاس : ” وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتهنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا ” قَالَ : وَجْههَا وَكَفَّيْهَا وَالْخَاتَم … وَيُحْتَمَل أَنَّ اِبْن عَبَّاس وَمَنْ تَابَعَهُ أَرَادُوا تَفْسِير مَا ظَهَرَ مِنْهَا بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُور عِنْد الْجُمْهُور وَيُسْتَأْنَس لَهُ بِالْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ أَبُو دَاوُد فِي سُنَنه… عَنْ عَائِشَة رَضِىَ اللَّه عَنْهَا أَنَّ أَسْمَاء بِنْت أَبِي بَكْر دَخَلَتْ عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَاب رِقَاق فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَقَالَ : ” يَا أَسْمَاء إِنَّ الْمَرْأَة إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيض لَمْ يَصْلُح أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا” وَأَشَارَ إِلَى وَجْهه وَكَفَّيْهِ لَكِنْ قَالَ أَبُو دَاوُد وَأَبُو حَاتِم الرَّازِيّ هُوَ مُرْسَل .خَالِد بْن دُرَيْك لَمْ يَسْمَع مِنْ عَائِشَة رَضِىَ اللَّه عَنْهَا وَاَللَّه أَعْلَم .

    Yaitu, tidak menampakkan sesuatu apapun dari perhiasannya kepada laki-laki asing (bukan mahram) kecuali apa-apa yang tidak mungkin lagi disembunyikan. Berkata Ibnu Mas’ud , ”yaitu seperti rida’ dan pakaian, yakni seperti yang dipakai di kalangan wanita Arab berupa mukena’ – yang menyelubungi pakaiannya dan menutupi apa yang terlihat di bagian bawahnya – , maka tidak mengapa hal tersebut (mukena’) terlihat karena memang tidaklah mungkin disembunyikan lagi sebagaimana kain sarung . . .”
    …Dari Ibnu Abbas  berkata,”kecuali wajah, kedua telapak tangan dan cincin.” …Dan kemungkinan bahwa Ibnu Abbas dan mereka yang mengikutinya menghendaki penafsiran “apa yang biasa tampak” sebagai wajah dan kedua telapak tangan – pendapat ini masyhur di banyak kalangan – dan didengar pula dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya…dari Aisyah رَضِىَ اللَّه عَنْهَا bahwa Asma’ binti Abu Bakar masuk menemui Nabi  dengan pakaian yang tipis. Maka Nabi  berpaling darinya dan bersabda,” Wahai Asma’ , sesungguhnya seorang wanita bila telah haidh maka tidak boleh terlihat darinya kecuali ini.” Dan beliau mengisyaratkan wajah dan telapak tangannya.”
    Namun justru Abu Dawud -periwayat hadits ini – dan Abu Hatim ar-Razi berkata bahwa hadits ini mursal. Hal ini karena Kholid bin Duraik tidak pernah mendengar dari Aisyah رَضِىَ اللَّه عَنْهَا. Wallahu ‘alam.

    b. Tafsir surat Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab, يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِـيــبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…) , yaitu :

    وَالْجِلْبَاب هُوَ الرِّدَاء فَوْق الْخِمَار قَالَهُ اِبْن مَسْعُود وَعَبِيدَة وَقَتَادَة وَالْحَسَن الْبَصْرِيّ وَسَعِيد بْن جُبَيْر وَإِبْرَاهِيم النَّخَعِيّ وَعَطَاء الْخُرَاسَانِيّ وَغَيْر وَاحِد وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ اْلإِزَار الْيَوْم… قَالَ عَلِيّ بْن أَبِي طَلْحَة عَنْ اِبْن عَبَّاس أَمَرَ اللَّه نِسَاء الْمُومِنِينَ إِذَا خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتهنَّ فِي حَاجَة أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوههنَّ مِنْ فَوْق رُءُوسهنَّ بِالْجَلاَبِيبِ وَيُبْدِينَ عَيْنًا وَاحِدَة .وَقَالَ مُحَمَّد بْن سِيرِينَ سَأَلْت عُبَيْدَة السَّلْمَانِيّ عَنْ قَوْل اللَّه عَزَّ وَجَلَّ ” يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ” فَغَطَّى وَجْهه وَرَأْسه وَأَبْرَزَ عَيْنه الْيُسْرَى. وَقَالَ عِكْرِمَة تُغَطِّي ثُغْرَة نَحْرهَا بِجِلْبَابِهَا تُدْنِيه عَلَيْهَا….عَنْ أُمّ سَلَمَة قَالَتْ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَة ” يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ” خَرَجَ نِسَاء الْأَنْصَار كَأَنَّ عَلَى رُءُوسهنَّ الْغِرْبَان مِنْ السَّكِينَة وَعَلَيْهِنَّ أَكْسِيَة سُود يَلْبَسْنَهَا.

    Jilbab ialah rida’ yang dikenakan di atas khimar (kerudung), demikian perkataan Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Hasan al-Bashri, Sai’d ibn Jubair, Ibrahim an-Nakha’i dan Atha’ al-Khurasani. Dan ada selainnya mengatakan jilbab itu kedudukannya sama seperti kain sarung di masa kini.
    Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas  : “Allah telah memerintahkan wanita-wanita muslimah jika keluar dari rumah mereka dalam suatu keperluan untuk menutup wajah-wajah mereka (mulai) dari atas kepalanya dengan jilbabnya dan menampakkan hanya satu mata saja.”.
    Berkata Muhammad Ibnu Sirrin: “Aku bertanya kepada Ubaidah as-Salmani tentang firman Allah  : يُدْنِيــنَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنّ , maka iapun (mencontohkan dengan ) menutup wajah dan kepalanya serta menampakkan mata kirinya.”
    Dan berkata Ikrimah,” menutupkan celah lehernya dengan jilbabnya yang terulur di atasnya.” …Dari Ummu Salamah berkata,”Ketika turun ayat ini يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ , keluarlah wanita-wanita Anshar seolah-olah kepala mereka ada burung gagak karena hitamnya pakaian yang mereka kenakan.”

     Di dalam Tafsir at-Thobari dan Tafsir Ibnu Katsir terlihat ada perbedaan antara Ibnu Mas’ud  dan Ibnu Abbas  ketika menafsirkan An-Nuur ayat 31 tentang إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنـْهَا (… kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…). Ibnu Mas’ud  menyatakan bahwa yang ditampakkan hanyalah pakaiannya saja sedangkan Ibnu Abbas  mengecualikan wajah dan telapak tangan sebagai bagian yang tidak ditutup.
    Namun ketika menafsirkan Al-Ahzaab ayat 59 tentang makna jilbab, Ibnu Abbas  tidak mengecualikan wajah dan telapak tangan! Beliau  bahkan hanya mengecualikan satu mata saja yang boleh ditampakkan!
    Maka dengan demikian kedua sahabat Nabi  -yang keduanya didoakan Nabi  sebagai ahli tafsir al-Qur’an – sama-sama sependapat bahwa wajah perempuan itu termasuk yang ditutup kecuali mata saja!

    4. Kitab Tafsir Jalalain ditulis oleh Syaikh Jalaluddin ibn Muhammad Al-Mahalli رحمه الله dan Syaikh Jalaluddin ibn Abi Bakrin as-Suyuthi رحمه الله. Kitab tafsir ini digunakan di hampir seluruh dunia dan pondok-pondok pesantren di Indonesia sejak masa dahulu. Pembahasan cadar di dalam kitab ini di antaranya dalam:
    a. Tafsir surat An-Nuur ayat 31 tentang زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْـهَا (… perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.) :
    و هو الوجه و الكفان فيجوز نظره لأجنبي ان لم يخف فتنة في أحد وجهين و الثني يحرم لأنه مظنة الفتنة و رجح حسما للباب

    “wajah dan kedua telapak tangan, maka dibolehkan terlihat lelaki asing jika tidak takut terjadi fitnah; pada satu pendapat. Pada pendapat kedua diharamkan terlihat (wajah dan kedua telapak tangan) karena dapat mengundang fitnah dan (pendapat ini) kuat untuk memutus pintu fitnah tersebut.”

    b. Tafsir surat Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab, يُدْنـِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبـهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…), yaitu :

    جمع جلباب و هي الملاءة التي تشتمل بها المرأة أي يرخين بعصها على الوجوه اذا خرجن لحاجتهن الا عينا واحدة

    “Bentuk jamak dari jilbab, yaitu pakaian besar yang menyelubungi perempuan, yaitu menurunkan sebagiannya ke atas wajah-wajah mereka ketika keluar untuk suatu keperluan hingga tidak menampakkannya kecuali hanya satu mata saja.”

    5. Kitab Tafsir Aisar at-Tafasir ditulis oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi رحمه الله, semasa hidup adalah Imam Besar Masjid Nabawi Madinah, seorang ulama yang dikenal oleh kaum muslimin Indonesia khususnya bagi jamaah haji yang berkunjung ke Madinah dan penulis kitab Minhajul Muslim (Pedoman Hidup Seorang Muslim) yang banyak dibaca kaum muslimin di Indonesia. Pembahasan cadar di antaranya dalam:
    a. Tafsir surat An-Nuur ayat 31 tentang إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْـهَا (… kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…), yaitu :
    “Apa saja yang tidak mungkin ditutup lagi atau disembunyikan lagi seperti kedua telapak tangan ketika menerima atau memberi sesuatu atau kedua mata untuk melihat. Dan apabila di tangannya terdapat cincin dan pacar (pemerah kuku) dan pada kedua matanya terdapat celak dan pakaian yang memang sudah tampak dari kerudung-kerudung di atas kepala dan pakaian ‘abaya yang menutupi seluruh tubuh, maka hal demikian adalah dimaafkan karena memang tidak bisa ditutup lagi”.

    b. Tafsir surat Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab, يُدْنِيـنَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…) , yaitu :
    “menurunkan jilbab-jilbab mereka ke atas wajah-wajah mereka sehingga tidak terlihat lagi dari seorang perempuan kecuali satu mata untuk melihat jalan jika ia keluar untuk suatu keperluan.”

    6. Kitab Fiqh Al-Umm ditulis oleh al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i رحمه الله , ulama besar di dalam fiqh yang menjadi panutan para ulama lainnya. Cadar di antaranya disinggung di dalam:

    a. Al-Umm Kitab Thoharoh Bab Mengusap Kepala :

    ‏[‏قَالَ الشَّافِعِيُّ‏]‏‏:‏ وَإِذَا أَذِنَ اللَّهُ تَعَالَى بِمَسْحِ الرَّأْسِ ‏(‏فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مُعْتَمًّا فَحَسَرَ الْعِمَامَةَ‏)‏ فَقَدْ دَلَّ عَلَى أَنَّ الْمَسْحَ عَلَى الرَّأْسِ دُونَهَا وَأُحِبُّ لَوْ مَسَحَ عَلَى الْعِمَامَةِ مَعَ الرَّأْسِ وَإِنْ تَرَكَ ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ وَإِنْ مَسَحَ عَلَى الْعِمَامَةِ دُونَ الرَّأْسِ لَمْ يُجْزِئْهُ ذَلِكَ وَكَذَلِكَ لَوْ مَسَحَ عَلَى بُرْقُعٍ أَوْ قُفَّازَيْنِ دُونَ الْوَجْهِ وَالذِّرَاعَيْنِ لَمْ يُجْزِئْهُ ذَلِكَ

    “(Berkata asy-Syafi’i 🙂 ”Dan ketika Allah membolehkan mengusap kepala saja (adalah Rasulullah  benar-benar melepas sorbannya) maka hal ini sudah cukup tegas menunjukkan bahwa mengusap kepala itu dilakukan tanpa mengusap sorban. Dan aku menyukai bila seseorang itu mengusap sorbannya beserta kepalanya. Dan jika meninggalkan hal itu maka tidak mengapa. Namun jika ia mengusap sorban saja tanpa kepalanya maka tidaklah sah wudhu’nya. Ini seperti hanya mengusap burqa (cadar) saja, atau kedua sarung tangan saja tanpa mengenai wajahnya dan kedua hastanya maka tidak sah wudhu’nya.”

    Adanya perkataan al-Imam asy-Syafi’i رحمه الله tentang burqa (cadar) dan sarung tangan sudah cukup untuk menunjukkan bahwa menutup muka dan sarung tangan telah menjadi kebiasaan wanita muslimah pada masa itu.

    b. Al-Umm Kitab Haji Bab Pakaian Apa yang Dipakai Seorang Perempuan :

    وَتُفَارِقُ الْمَرْأَةُ الرَّجُلَ فَيَكُونُ إحْرَامُهَا فِي وَجْهِهَا وَإِحْرَامُ الرَّجُلِ فِي رَأْسِهِ فَيَكُونُ لِلرَّجُلِ تَغْطِيَةُ وَجْهِهِ كُلِّهِ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ وَلاَ يَكُونُ ذَلِكَ لِلْمَرْأَةِ وَيَكُونُ لِلْمَرْأَةِ إذَا كَانَتْ بَارِزَةً تُرِيدُ السِّتْرَ مِنْ النَّاسِ أَنْ تُرْخِيَ جِلْبَابَهَا أَوْ بَعْضَ خِمَارِهَا أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ ثِيَابِهَا مِنْ فَوْقِ رَأْسِهَا وَتُجَافِيهِ عَنْ وَجْهِهَا حَتَّى تُغَطِّيَ وَجْهَهَا مُتَجَافِيًا كَالسَّتْرِ عَلَى وَجْهِهَا وَلاَ يَكُونُ لَهَا أَنْ تَنْتَقِبَ

    “Perbedaan antara perempuan dengan laki-laki di dalam ihram adalah perempuan pada wajahnya dan laki-laki pada kepalanya. Laki-laki-laki boleh menutup wajahnya setiap saat tanpa ada hal darurat, akan tetapi hal ini terlarang bagi perempuan”.
    “Adapun seorang perempuan (dalam ihram) bila wajahnya dalam keadaan terbuka dan ia ingin menutupinya dari manusia; maka hendaknya ia menurunkan jilbabnya atau sebagian kerudungnya atau kain lainnya dari pakaiannya dari atas kepalanya ke depan wajahnya (tidak menempel) sehingga MENUTUPI WAJAHNYA seperti penutup pada wajah namun tidak seperti niqob (yang menempel pada wajah). ”

    Kita tahu bahwa di dalam ihram wanita tidak boleh menutup mukanya sehingga kebanyakan ulama berpendapat, wanita yang ihram wajib membuka wajah dan tangannya. Larangan ini juga mengindikasikan bahwa menutup wajah telah menjadi kebiasaan dan kewajaran bagi wanita muslimah pada masa Nabi  .
    Namun demikian, anehnya Imam asy-Syafi’i رحمه الله tetap membolehkan wanita menutupi wajahnya dari pandangan laki-laki bila dikhawatirkan terfitnah syahwat dengan cara wanita itu menutupi wajahnya dengan jilbabnya, kerudungnya atau kain dari pakaiannya di depan mukanya (tidak ditempelkan ke wajahnya).
    Larangan yang keras tidak dapat digugurkan dan dilanggar kecuali dengan perbuatan penentang yang kekuatan hukumnya sepadan dengan larangan itu. Sedangkan perkara yang wajib tidaklah dapat dilawan kecuali dengan perkara yang wajib pula. Maka kalau bukan karena kewajiban menutup wajah bagi wanita, niscaya tidak boleh meninggalkan kewajiban ini (yakni membuka wajah bagi wanita yang ihram).

    7. Kitab Fiqh Kifayatul Akhyar ditulis oleh al-Imam Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hisni ad-Dimsyaqi asy-Syafi’i رحمه الله , seorang ulama’ masyhur mazhab Syafi’i . Kitab fiqh Kifayatul Akhyar ini digunakan di hampir seluruh dunia, di pelosok daerah dan pondok-pondok pesantren di Indonesia sejak masa dahulu. Pembahasan cadar senantiasa menghiasi kitab ini ketika membahas tentang aurat wanita; di antaranya :

    a. Pada Kitab Shalat Bab Syarat-Syarat Shalat Sebelum Mengerjakannya , yaitu :
    (وستر العورة بلباس طاهر، والوقوف على مكان طاهر). أما طهارة اللباس والمكان عن النجاسة فقد مر، وأما ستر العورة فواجب مطلقاً حتى في الخلوة والظلمة على الراجح. . . . والمرأة متنقبة إلا أن تكون في مسجد، وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب وهذا كثير في مواضع الزيارة كبيت المقدس، زاده الله تعالى شرفاً فليجتنب ذلك.
    “{Dan menutup aurat dengan pakaian yang suci, dan berdiri di tempat yang suci}. – Adapun perkara pakaian dan tempat harus suci dari najis, telah diterangkan sebelumnya. Adapun menutup aurat hukumnya wajib secara mutlak bahkan di tempat sepi sekalipun, menurut pendapat yang kuat. . . .
    Bagi wanita hukumnya WAJIB dia mengenakan penutup muka (cadar), kecuali jika berada di dalam masjid. Jika di masjid itu banyak laki-laki yang tidak mau menjaga matanya dari melihat wanita dan dikhawatirkan dapat menarik kepada kerusakan maka wanita itu HARAM membuka wajahnya.
    Dalam hal ini banyak sekali wanita yang membuka penutup wajahnya terutama di tempat-tempat ziarah seperti di Baitul Maqdis,-semoga Allah menambah kemuliaannya-, maka perbuatan semacam itu (membuka wajah) harus dijauhi.”

    b. Pada Kitab Haji Bab Hal yang Haram di Dalam Berihram, yaitu :
    ويحرم على المحرم عشرة أشياء: لبس المخيط وتغطية الرأس من الرجل والوجه من المرأة) . . . هذا كله في الرجل. وأما المرأة فالوجه في حقها كرأس الرجل وتستر جميع رأسها وبدنها بالمخيط ولها أن تستر وجهها بثوب أو خرقة بشرط ألا يمس وجهها سواء كان لحاجة أو لغير حاجة من حر أو برد أو خوف فتنة، ونحو ذلك

    …“Dan diharamkan atas orang yang berihram melakukan 10 perkara, yaitu (1) memakai pakaian yang berjahit, (2) menutup kepala bagi laki-laki dan (3) menutup muka bagi wanita.”
    “… dan itu semua bagi laki-laki, adapun wanita, maka hukum wajahnya sama dengan hukum kepala bagi laki-laki. Wanita boleh menutupi seluruh badannya dan kepalanya dengan pakaian yang berjahit. Dan juga bagi wanita agar menutupi wajahnya dengan kain atau sobekan kain, dengan syarat kain tersebut tidak menyentuh mukanya. Baik menutupi wajahnya itu karena suatu hajat, seperti kepanasan, kedinginan, atau karena takut terjadi fitnah (syahwat) dan lain-lain ataupun juga tanpa sebab hajat apapun.”

    Kita tahu bahwa di dalam ihram wanita tidak boleh menutup mukanya. Larangan ini mengindikasikan bahwa menutup wajah telah menjadi kebiasaan dan kewajaran bagi wanita muslimah pada masa Nabi . Namun demikian para ulama tetap membolehkan wanita menutup wajahnya sebagaimana tertulis di dalam kitab Kifayatul Akhyar ini. Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah رَضِىَ اللَّه عَنْهَا yang tertulis di dalam Musnad Ahmad 6/22894 dan Sunan Abu Dawud Kitab Manasik Bab Wanita Ihram Menutup Wajahnya , berikut ini :

    كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ
    “Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah . Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya kepada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.”

    8. Kitab Fiqh Fathul Qarib ditulis oleh al-Imam al-Alaamah as-Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i رحمه الله, seorang ulama’ masyhur mazhab Syafi’i . Kitab fiqh Fathul Qarib adalah kitab fiqh kecil yang digunakan di hampir seluruh dunia dan di pondok-pondok pesantren di Indonesia sejak masa dahulu. Cadar tertulis di kitab ini ketika membahas tentang aurat wanita; di antaranya :

    a. Pada Kitab Shalat Pasal Syarat-Syarat Shalat Sebelum Mengerjakannya , yaitu :
    و عورة الحرة فى الصلاة ما سوى وجهها و كفيها ظهرا و يطنا الى الكوعين أم عورة الحرة خارج الصلاة فجميع بدنها عورتها فى الخلوة كالذكر

    “Aurat perempuan merdeka di dalam shalat, yaitu sesuatu yang ada selain dari wajahnya dan kedua telapak tangannya, baik bagian atas ataupun dalamnya sampai kedua pergelangannya. Adapun auratnya perempuan yang merdeka di luar shalat ialah seluruh badannya dan di tempat sunyi auratnya sama dengan laki-laki.”

    b. Pada Kitab Shalat Pasal Perkara-Perkara yang Berbeda di Dalam Shalat antara Laki-Laki dan Perempuan
    (وجميع بدن) المرأة ( الحرة عورة الا وجهها و كفيها) وهذه عورتها فى الصلاة . أم خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها.
    “(Seluruh badan perempuan merdeka adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan). Ini adalah aurat perempuan di dalam shalat. Sedangkan aurat perempuan merdeka di luar shalat ialah seluruh badannya.”

    9. Kitab Fiqh Hasyiah al-Bajuri ‘ala Fathul Qarib, ditulis oleh Imam Ibrahim al-Bajuri رحمه الله :

    (قَوْلُهُ إِلىَ أَجْنَـبِّيَةِ) أَي إِلىَ شَيْءٍ مِنْ اِمْرَأَةٍ أَجْنَـبِّيَّةٍ أَي غَيْرِ مَحْرَمَةٍ وَلَوْ أَمَةً وَشَمِلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفََّّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظَرُ إِلَيْهَا وَلَوْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ أَوْ خَوْفٍ فِتْنَةٍ عَلىَ الصَّحِيْحِ كَمَا فِيْ الْمِنْحَاجِ وَغَيْرِهِ إِلىَ أَنْ قَالَ وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ” وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا” وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَالْمُعْتَمَدُ اْلأَوَّلُ. وَلاَ بَأْسَ بِتَقْلِيْدِ الْـثَانِيْ لاَسِيَّمَا فِيْ هَذَا الزَّمَانِ الَّذِيْ كَثُرَ فِيْهِ خُوْرُجُ النِّسَاءِ فِيْ الطُّرُقِ وَاْلأَسْوَاقِ وَشَمِلَ ذَلِكَ أَيْضًا شَعْرَهَا وَظَفْرَهَا.

    (PENDAPAT PERTAMA) (Perkataannya atas yang bukan mahram / asing) yakni, pada segala sesuatu pada diri wanita yang bukan mahramnya walaupun budak termasuk wajah dan kedua telapak tangannya, maka haram melihat semua itu walaupun tidak disertai syahwat ataupun kekhawatiran timbulnya adanya fitnah sesuai pendapat yang sahih sebagaimana yang tertera dalam kitab al-Minhaj dan lainnya. PENDAPAT LAIN (KEDUA) menyatakan atau dikatakan (qila) tidak haram sesuai dengan firman Allah “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya” (QS.An-Nuur : 31).
    PENDAPAT PERTAMA (yang mengharamkan) lebih sahih, dan tidak perlu mengikuti pendapat kedua (yang tidak mengharamkan) terutama pada masa kita sekarang ini di mana banyak wanita keluar di jalan-jalan dan pasar-pasar. Keharaman ini juga mencakup rambut dan kuku. (Jilid 2 Bab Nikah).

    Apa yang tertulis pada kitab ini juga dijadikan dasar hukum cadar pada Muktamar NU ke VIII tahun 1933 di Jakarta.

    10. Keputusan Muktamar VIII Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta dalam Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang Hukum Keluarnya Wanita Dengan Terbuka Wajah Dan Kedua Tangannya :

    Pertanyaan :
    Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)
    Jawaban :
    Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi – penj ).
    Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.

    Sebenarnya di dalam kitab-kitab yang telah tersebut di atas pun bila kita telisik satu persatu akan kita dapati lagi terminologi cadar di dalam bab-babnya dan pasal-pasalnya. Selain itu masih banyak lagi ratusan kitab-kitab para ulama yang membahas masalah cadar, seperti di dalam kitab Raudhah ath-Thalibin oleh Imam an-Nawawi, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Fathul Bari oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, Nailul Authar, Tafsir al-Qurthubi dan sebagainya. Namun pastilah akan berlembar-lembar bila seluruhnya harus ditulis di sini.
    Dari uraian kitab-kitab di atas kita tahu bahwa tidak ada satupun dari para ulama yang mencela, menuduh ataupun menganggap bahwa cadar adalah barang baru (bid’ah), aliran sempalan atau sesat bahkan justru yang ada adalah sebaliknya: cadar telah dicontohkan para istri Nabi dan perempuan muslimah di zaman Nabi .
    Bila kita perhatikan tampaklah bahwa para ulama kita khususnya madzhab Syafi’i telah memberikan status hukum cadar dari sesuatu yang wajib hingga mandub (dianjurkan). Bahkan bila dikhawatirkan terjadi fitnah syahwat maka cenderung mewajibkannya walaupun dalam keadaan sedang berihram.
    Oleh karena itu jika telah diketahui kedudukan cadar di dalam Islam ini namun ternyata masih ada orang yang bersikap sinis, mencela, mengolok-olok, melarang atau menuduh aliran sesat maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah orang yang hatinya kotor, picik, sempit dan dengki terhadap Islam. Allah  berfirman :

                  (QS. Al-Baqarah : 10)
    “di hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”
          •        •    (QS. Al-Muthaffifiin : 13-14)
    13. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”
    14. sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

    Bahkan mereka selalu mengolok-olok orang beriman yang mengamalkan syariat Islam. Allah  berfirman:

    •                        •                           (QS. Al-Muthaffifiin : 29-36)
    29. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.
    30. dan apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.
    31. dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira.
    32. dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”,
    33. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin.
    34. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,
    35. mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.
    36. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

    Maka dari itu hendaklah masing-masing dari kita berhati-hati di dalam bertindak dan bersikap sehingga tidak melakukan pelarangan, tuduhan atau celaan tanpa ilmu. Karena bisa jadi yang dilarang, dituduh dan dicela itu adalah ajaran agama kita sendiri yang telah disyari’atkan oleh Allah  dan RasulNya .
                 (QS. An-Nuur : 63)
    63. Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

    Ingatlah, Allah  senantiasa akan meminta pertanggungjawaban atas pendengaran, penglihatan dan hati kita :

            •          (QS. Al-Isra” : 36)
    36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

    Semoga kita senantiasa diberi petunjuk dan tambahan ilmu oleh Allah .Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah  di dalam mengamalkan agama yang mulia ini sehingga senantiasa tegar di atas jalanNya dan tidak takut atau gentar terhadap celaan orang yang suka mencela. Semoga Allah  mengokohkan persatuan kaum muslimin sehingga tidak tercerai berai. Amin.
    و الحمد لله رب العالمين .أجمعين و صلى الله على على نبينا محمد وعلى آله و صحبه

    Selesai ditulis di Jakarta, pada Jum’at, 7 Dzulhijjah 1429 H / 5 Desember 2008.

    Ummu Ashhama Zeedan (Mrs. Novita Kartikasari, SS, MPd.)
    Penulis adalah guru senior di Ar-Rahman Islamic School Cinere Depok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s